Saturday, 8 July 2017

TERIMAKASIH KEPADA KURMA DAN KUNYIT


Siang itu pandanganku teralih pada sebuah toples berisi Kurma-kurma mengilat, tidak jauh jaraknya dari toples ada sekantung rempah belanjaan Mama yang masing-masing terbungkus kertas. Entah, bagaimana caranya si Kunyit sedikit mengintip dari balik kertas. Membuat imajinasiku bermain bebas. Aku suka sekali kurma, tapi yang tidak terlalu manis karena gigiku sensitif dengan manis yang menyengat, terlebih dengan cokelat. Sementara Kunyit, ramuanya aku tak pernah suka karena pahit. Tapi satu bulan sekali selalu kucari. Tak sadar aku menyernyit memikirkan nasib Kurma dan Kunyit sehari-hari dan membayangkan mereka "mengobrol renyah".

Kunyit : Kenapa Kurma, kamu terlihat begitu murung?
Kurma : Entah aku sedang bosan, bosan dengan hidupku.
Kunyit : Loh bukankah hidupmu begitu manis?
Kurma : Justru itu, aku bosan menjadi si manis yang banyak manusia cari. Seperti tidak ada tantangan. (Si Kurma menekuk wajahnya)
Kunyit : Ah ayolah, jangan kamu kufur terhadap nikmat Allah. Lihat aku, aku si kuning pahit. Tapi, manusia tetap mencariku. Walaupun sebelumnya mereka menghina bentuk, bau, dan rasaku. Aku bangga bisa bermanfaat bagi mereka. Tentu aku iri padamu, kamu diciptakan sempurna. Berbagai riwayat menceritakan kelebihanmu, Alqur'an pun sering menceritakan khasiatmu.
Kurma : Ya Allah ampunilah khilafku, padahal aku tau bila bersyukur nikmatku ditambah.
Kunyit : Sesungguhnya Allah sudah beri kunci bersyukur. Bagimu mudah, cukup melihat aku yang ditakdirkan menjadi si pahit. Lihat lah kebawah pada yang kurang beruntung.
Kurma : Lalu bagimu, bagaimana cara kamu menghibur dirimu Kunyit?
Kunyit : Sama saja. Sekalipun aku memang jadi yang paling kurang beruntung. Aku percaya Allah pasti punya tujuan menciptakan mahluknya di bumi.
Aku ditakdirkan pahit, bentukku tidak indah, tapi aku punya banyak manfaat bagi manusia. Aku harus beryukur atas nikmatku dan percaya pada takdir Allah. Lihatlah debu akan dicari saat tiada air untuk tayamum.
Kurma : Sekarang aku pun sadar Allah menciptakan mahluk lain untuk mengingatkan kala aku khilaf. Terimakasih saudaraku Kunyit, tak peduli bagaimana manis atau pahitnya takdir Allah untuk kita. Yang terpenting bagaimana kita percaya dan bersyukur.

Bagiku rasa hidup itu hanya dua, manis dan pahit. Jangan sampai terlalu banyak rasa yang biasa-biasa saja, karena kesempatan belajar akan semakin sedikit. Saat Allah beri aku kebahagiaan, manis yang kurasa harus ku syukuri dan tetap mengingat tidak ada yang kekal di dunia ini apalagi kebahagiaan. Saat Allah beri aku musibah, pahit yang kurasa harus ku ingat-ingat biar tetap ku jadikan pelajaran. Pahit itu juga tidak selamanya karena janji Allah itu pasti, setelah satu kesulitan tentu ada kemudahan. Selama itu semua berlangsung terus jalin komunikasi  dengan Allah, caranya dengan doa. Kala ragu, ingat-ingat lagi hal yang membuatmu beruntung, itu pasti berkat doa. 

Manis atau pahit, pasti Allah beri manfaat setelahnya. Alasan blog ini kuberi nama "kurma dan kunyit" adalah karena  manis atau pahit hal yang kutulis dalam blogku semoga beri manfaat bagi dirimu. Terimakasih kepada Kurma dan Kunyit, Insyaa Allah aku pun punya makna di dunia :)