Saturday, 8 July 2017

ALLAH MAKE US STRONG IN HIS WAY


“I am very sorry. The baby does not have a heartbeat.” Two sentences. Eleven words. These words shot through my ears like a rocket. Pain, heartbreak, and sadness rushed through my veins. I felt confusion, denial, and shock. I cried, and cried, and cried. I began to think of all the plans and dreams my husband and I had for our first baby.

Pain comes in two different ways: physical and emotional. Getting sick would be considered a physical pain while the loss of a loved one would be an emotional pain. Unfortunately, miscarriage falls under both types of pain. It targets you physically and emotionally.

I tried to fight back the emotional pain, but sometimes the physical pain became stronger making me vulnerable to the emotional pain. I tried to put on a happy face, but I somehow associated everything around me to my precious unborn baby. I tried and tried, but I unwillingly succumbed to pain each time. I didn’t feel like leaving my bed.

However, I am getting better, day by day, and I am learning to live with this. I no longer feel like bursting into tears every time I see a pregnant lady, or a mother playing with her child, or baby clothing in stores. I am beginning to feel happiness again, and no longer have to pretend when I smile. This does not mean I have forgotten. I will never forget the precious weeks I spent with my unborn baby. This only means I am learning how to continue after a miscarriage.

I then remembered that I was just a human. A flawed and imperfect piece of flesh made from clay. This was not something I could control or could have avoided. This was part of Allah’s  plan for me. As humans, we plan, and plan, and plan, but Allah is the best of planners. I knew this was the plan that Allah had prepared for me since I was in my mother’s womb. I was confident that Allah had a reason behind this sadness. I was happy to know that Allah  knew I was strong enough to handle this trial. Allah says in the Qur’an:
    “Allah does not charge a soul except [with that within] its capacity.”
[Qur’an: Chapter 2: Verse 286]
It was after this realization that I uttered "Alhamdulilah alaa kulli hal”. And I thank Allah for I am the most luckiest person in the whole world, because i have a loving and caring husband like Mas Arief. He is the best. Thank you so much for always supporting me. After He have entered in my life, all my problems and difficulties seems to have been disappeared. Thank you, for making my life so special and full of joy. Now I am ready to set and start the new ikhtiar :)


For those who have been in the same situation as I was, I am very sorry this happened to you, and I make sincere dua that Allah  blesses Us with healthy children in the near future. For my readers who have not experienced such heart break, I pray that Allah  gives Us healthy pregnancies to term.
Aamiin..

TERIMAKASIH KEPADA KURMA DAN KUNYIT


Siang itu pandanganku teralih pada sebuah toples berisi Kurma-kurma mengilat, tidak jauh jaraknya dari toples ada sekantung rempah belanjaan Mama yang masing-masing terbungkus kertas. Entah, bagaimana caranya si Kunyit sedikit mengintip dari balik kertas. Membuat imajinasiku bermain bebas. Aku suka sekali kurma, tapi yang tidak terlalu manis karena gigiku sensitif dengan manis yang menyengat, terlebih dengan cokelat. Sementara Kunyit, ramuanya aku tak pernah suka karena pahit. Tapi satu bulan sekali selalu kucari. Tak sadar aku menyernyit memikirkan nasib Kurma dan Kunyit sehari-hari dan membayangkan mereka "mengobrol renyah".

Kunyit : Kenapa Kurma, kamu terlihat begitu murung?
Kurma : Entah aku sedang bosan, bosan dengan hidupku.
Kunyit : Loh bukankah hidupmu begitu manis?
Kurma : Justru itu, aku bosan menjadi si manis yang banyak manusia cari. Seperti tidak ada tantangan. (Si Kurma menekuk wajahnya)
Kunyit : Ah ayolah, jangan kamu kufur terhadap nikmat Allah. Lihat aku, aku si kuning pahit. Tapi, manusia tetap mencariku. Walaupun sebelumnya mereka menghina bentuk, bau, dan rasaku. Aku bangga bisa bermanfaat bagi mereka. Tentu aku iri padamu, kamu diciptakan sempurna. Berbagai riwayat menceritakan kelebihanmu, Alqur'an pun sering menceritakan khasiatmu.
Kurma : Ya Allah ampunilah khilafku, padahal aku tau bila bersyukur nikmatku ditambah.
Kunyit : Sesungguhnya Allah sudah beri kunci bersyukur. Bagimu mudah, cukup melihat aku yang ditakdirkan menjadi si pahit. Lihat lah kebawah pada yang kurang beruntung.
Kurma : Lalu bagimu, bagaimana cara kamu menghibur dirimu Kunyit?
Kunyit : Sama saja. Sekalipun aku memang jadi yang paling kurang beruntung. Aku percaya Allah pasti punya tujuan menciptakan mahluknya di bumi.
Aku ditakdirkan pahit, bentukku tidak indah, tapi aku punya banyak manfaat bagi manusia. Aku harus beryukur atas nikmatku dan percaya pada takdir Allah. Lihatlah debu akan dicari saat tiada air untuk tayamum.
Kurma : Sekarang aku pun sadar Allah menciptakan mahluk lain untuk mengingatkan kala aku khilaf. Terimakasih saudaraku Kunyit, tak peduli bagaimana manis atau pahitnya takdir Allah untuk kita. Yang terpenting bagaimana kita percaya dan bersyukur.

Bagiku rasa hidup itu hanya dua, manis dan pahit. Jangan sampai terlalu banyak rasa yang biasa-biasa saja, karena kesempatan belajar akan semakin sedikit. Saat Allah beri aku kebahagiaan, manis yang kurasa harus ku syukuri dan tetap mengingat tidak ada yang kekal di dunia ini apalagi kebahagiaan. Saat Allah beri aku musibah, pahit yang kurasa harus ku ingat-ingat biar tetap ku jadikan pelajaran. Pahit itu juga tidak selamanya karena janji Allah itu pasti, setelah satu kesulitan tentu ada kemudahan. Selama itu semua berlangsung terus jalin komunikasi  dengan Allah, caranya dengan doa. Kala ragu, ingat-ingat lagi hal yang membuatmu beruntung, itu pasti berkat doa. 

Manis atau pahit, pasti Allah beri manfaat setelahnya. Alasan blog ini kuberi nama "kurma dan kunyit" adalah karena  manis atau pahit hal yang kutulis dalam blogku semoga beri manfaat bagi dirimu. Terimakasih kepada Kurma dan Kunyit, Insyaa Allah aku pun punya makna di dunia :)